Karakteristik Karya Sastra Modern, Cocok Untuk Novelis Millenial

Karakteristik Karya Sastra Modern, Cocok Untuk Novelis Millenial

Karakteristik Karya Sastra Modern, Cocok Untuk Novelis Millenial

Di era millenial khususnya bagi seorang penulis maka wajib untuk mengetahui karakteristik karya sastra modern. Karya sastra atau fiksi ini memang menjadi favorit belakangan ini mengingat karakteristiknya yang sesuai dengan perkembangan zaman. Tak heran jika karya sastra modern ini sangat cocok bagi para penulis generasi millenial yang ingin menciptakan sesuatu baru.

Karya sastra modern ini memang muncul belum terlalu lama sekitar tahun 2000-an. Namun, sejak kemunculan pertamanya langsung mendapat antusias yang cukup luar biasa dari kalangan novelis. Ini tak lepas dari karakteristiknya yang menawarkan hal baru, unik, dan tentunya berbeda dari karya terdahulu. Dan yang tak kalah menarik sangat modern atau kekinian.

Karya sastra yang kemudian disebut novel modern ini memang cukup menarik untuk diperbincangkan. Pasalnya ada beberapa ciri khas yang melekat diantaranya gaya bahasanya. Gaya bahasanya yang cenderung aktif dan romantis membuat siapapun tertarik untuk membacanya. Apalagi ditambah dengan temanya yang justru rasional atau masuk akal.

Serta mendapat pengaruh dari kesastraan barat merupakan karakteristik karya sastra modern ini. seperti halnya dalam pemilihan tema. Tema yang ada di dalam karya sastra modern lebih terfokus pada bagaimana konflik selesai, dan cenderung masyarakat sentris. Ini yang justru membuat karya tersebut sangat menarik dan tak pernah bosan untuk dibaca.

Membandingkan Karya Sastra Modern Vs Lama

Pembahasan untuk membandingkan keduanya memang sangatlah menarik. Tanpa mencari tahu mana yang lebih baik diantara keduanya termasuk karakteristik karya sastra modern atau lama, masing-masing memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Justru dengan perbedaan inilah yang membuat dunia sastra Indonesia semakin kaya.

Dari segi persamaan diantara keduanya adalah sama-sama memiliki unsur intrinsik. Unsur intrinsik memang sangat penting dalam karya sastra dan tak bisa dihilangkan. Sementara itu, dari segi cerita, diksi, hingga tujuan penulisan juga sama diantara keduanya. Jadi persamaan ini melihat dari karya sastra atau fiksi itu sendiri yang notabene memang sama dari berbagai unsur.

Sedangkan perbedaan diantara keduanya justru terletak pada gaya bahasa, tema cerita, proses perkembangan dan masih banyak lagi. Secara garis besar perbedaan ini mengarah kepada hal inti yang mana dapat dikatakan nyawa dari karya sastra itu sendiri. Ketika beberapa hal tersebut muncul maka sudah dapat dipastikan jenis karya sastra apa yang ditulis tersebut.

Untuk lebih mudah membandingkan keduanya maka anda bisa langsung membaca salah satu contoh kedua karya sastra tersebut. Contoh tersebut bisa anda dapat dengan mudah di berbagai web novel. Ketika anda sudah membaca maka akan semakin jelas perbedaan dan persamaan diantara kedua jenis karya sastra tersebut.

Referensi Karya Sastra Modern yang Bisa Dijadikan Patokan

Selain melalui website, anda juga bisa membaca berbagai macam genre karya sastra khususnya modern di aplikasi NovelMe. Aplikasi buatan anak bangsa ini memang sangat direkomendasikan mengingat banyaknya penulis kenamaan yang update tulisan secara rutin. Tak tanggung-tanggung payoutnya pun tembus hingga 40 juta perbulan.

Terlepas dari itu, anda wajib untuk membaca beberapa referensi karya sastra modern yang dihasilkan oleh novelis ternama. Diantaranya adalah Ayat-Ayat Cinta, Dilan, Laskar Pelangi, Perahu Kertas, Sang Pemimpi, 5 Cm, dan lain sebagainya. Semua judul tersebut memiliki keunikannya sendiri dan hampir seluruhnya diangkat ke layar lebar.

Untuk menghasilkan karya sastra seperti para novelis terkenal memang bukan hal mudah. Siapapun generasi millenial memiliki peluang besar untuk menjadi novelis hebat. Namun, hal pertama yang harus anda lakukan tentu belajar tentang karakteristik karya sastra modern untuk kemudian lanjut ke tahap penulisan dengan gaya bahasa sendiri.

Keyword riset:

Deskripsi:

Leave a Reply